Rabu, 27 Juni 2012

Mimpi Tak Pernah Ditenggelamkan Kondisi


Terlahir di kawasan pedesaan memang membuat orang cenderung memilih jalan kehidupan yang sederhana, tanpa mimpi yang muluk-muluk. Itu juga yang membuat banyak keluarga saya memilih jadi PNS, dan rata rata tetangga saya memilih untuk menjadi OB di kapal pesiar. Lalu apakah sang pemimpi akan menghentikan langkahnya ketika menghadapi kondisi yang seperti itu ??
Pada cerita laskar pelangi, bahkan diceritakan Andrea Hirata lahir di daerah belitong, daerah terpencil di lepas pantai timur sumatera. Atau Iwan Setyawan penulis bukui 9 Summer 10 Autums, ia lahir di daerah terpencil di malang dalam lingkungan keluarga miskin. Masih banyak contoh lain dari sang pemimpi sejati, yaitu mereka-mereka yang tak mampu bendung oleh apapun untuk merealisasikan mimpi-mimpinya.
Di SMA saya dulu, kondisinya sama seperti orang-orang di desa saya. Sedikit sekali siswa yang berani untuk bermimpi, sedikit pula guru-guru yang mau memotivasi murid-muridnya untuk bermimpi. Dalam kondisi seperti ini siapa yang dikoreksi habis-habisan ?? Guru ? Orang Tua ? Murid itu sendiri ? atau bahkan bangsa ini, yang kata Soekarno adalah bangsa kuli.
Lingkungan ibarat enzim yang mampu mengakatalisis pribadai menjadi pribadi yang jauh lebih baik, namun bukankah substrat yang diubah menjadi produk adalah pribadi itu sendiri ??
Satu satunya syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpi tangguh adalah semangat dan etos kerja luar biasa, yang tak terbendung oleh situasi, kondisi, dan keterbatasan apapun. Semangat tidak hanya dimunculkan dari dalam diri, namun semangat tersebut haruslah mampu dialirkan dari keberadaan orang lain, dari kepedulian terhadap lingkungan, dan kemauan untuk membawa perubahan. Dengan begitu Mimpi tak akan pernah tenggelam oleh kondisi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar